"TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA"

Wednesday, June 27, 2012

Aliran Kalam Syi'ah

A.    PENGERTIAN DAN ASAL-USUL KEMUNCULAN SYI’AH
1.      Pengertian Syi’ah
Syi’ah dilihat dari bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok, sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslimin yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW. Atau orang yang disebut sebagai ahl al-bait. Poin penting dalam doktrin Syi’ah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama itu bersumber dari ahl al-bait. Mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl al-bait atau para pengikutnya.
Pengertian bahasa dan terminologis di atas hanya merupakan dasar yang membedakan Syi’ah dengan kelompok Islam yang lain. Di dalamnya belum ada penjelasan yang memadai mengenai Syi’ah berikut doktrin-doktrinnya. Meskipun demikian titik tolak penting bagi mazhab Syi’ah dalam mengembangkan dan membangun doktrin-doktrinnya yang meliputi segala aspek kehidupan.
2.      Asal-usul Kemunculan Syi’ah
Mengenai kemunculan Syi’ah  dalam sejarah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah, Syi’ah  muali muncul pada masa akhir pemerintahan Ustman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Adapun menurut Watt, Syi’ah baru benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sofyan yang dikenal dengan Perang Siffin.
Kalangan Syi’ah sendiri sendiri berpendapat bahwa kemunculan Syi’ah berkaitan dengan masalah pengganti (khalifah) Nabi SAW. Mereka menolak kekhalifahan Abu bakar, Umar bin Khatthab, dan Ustman bin Affan karena dalam pandangan mereka hanyalah Ali bin Abi Thalib yang berhak menggantikan Nabi SAW. Kepemimpinan Ali dalam pandangan Syi’ah tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Nabi SAW pada masa hidupnya. 
Pada awal kenabian, ketika Muhammad SAW, diperintahkan menyampaikan dakwah kepada kerabatnya, yang pertama menerima adalah Ali bin Abi Thalib. Diceritakan bahwa Nabi pada saat itu mengatakan bahwa orang yang pertama-tama memenuhi ajakannya akan menjadi penerus dan pewarisnya.
Bukti utama sahnya Ali sebagai penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. Diceritakan bahwa ketika kembali dari haji terakhir, dalam perjalanan kari Mekkah ke Madinah, di suatu padang pasir yang bernama Ghadir Khumm. Nabi memilih Ali sebagai penggantinya di hadapan massa yang penuh sesak yang menyertai beliau. Pada peristiwa itu, Nabi tidak hanya menetapkan Ali sebagai pemimpin umum umat, tetapi juga menjadikan Ali sebagaimana Nabi sendiri, sebagai pelindung mereka. Namun, realitas ternyata berbeda lain.
Dalam perkembangannya, selain memperjuangkan kekhalifahan ahl al-bait di hadapan dinasti Ammawiyah dan Abbasiyah, Syi’ah juga mengembangkan doktrin-doktrinnya sendiri. Berkaitan dengan teologi, mereka memiliki lima rukun iman, yakni tauhid (kepercayaan kepada keesaan Allah): nubuwwah (kepercayaan kepada kenabian); ma’ad (kepercayaan akan adanya hidup di akhirat); imamah (kepercayaan terhadap adanya imamah yang merupakan hak ahl al-bait); dan adl (keadilan ilahi). Meskipun mempunyai landasan keimanan yang sama, Syi’ah tidak dapat mempertahankan kesatuannya. Dalam perjalanan sejarah, kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapa sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktrin imamah. Di antara sekte-sekte Syi’ah itu adalah Itsna As ‘ariyah, Sab’iyah, Zaidiyah,dan  Ghullat.

B.     SYI’AH ITSNA ASY’ARIYAH
1.      Asal usul Penyebutan  Imamiyah dan Syi’ah Itsna Asy’ariyah
Dinamakan Syi’ah Imamiyah karena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalam arti pemimpin religio politik, yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya karena kecakapannya atau kemuliaan akhlaknya, tetapi karena ia telah ditunjuk nas dan pantas khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.
Syi’ah Itsna As’ariyah sepakat bahwa Ali penerima wasiat nabi Muhammad SAW seperti yang ditunjukkan nas. Adapun Al-ausiya setelah Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husen bin Ali sebagaimana yang disepakati. Setelah Husen adalah Ali Zaenal Abidin, kemudian secara berturut-turut; Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja’far As-Shadhiq, Musa Al-Khazim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari dan terakhir adalah Muhammad Al-Mahdi sebagai imam kedua belas.
Demikianlah, karena berbai’at di bawah imamah  dua belas imam, mereka dikenal dengan sebutan Syi’ah Itsna Asy’ariyah.
2.      Doktrin-doktrin Syi’ah Itsna As’ariyah
Di dalam sekte Syi’ah Itsna As’ariyah dikenal konsep Usul Ad-Din. Konsep ini menjadi fondasi pragmatisme agama, konsep ini pula memiliki lima akar yaitu :


a.      Tauhid
b.      Keadilan
c.       Nubuwwah
d.      Ma’ad
e.       Imamah
 
C.    SYI’AH SYAB’IYAH
1.      Asal-usul Penyebutan Syi’ah Syab’iyah
Istilah Syi’ah Syab’iyah dianalogikan dengan Syi’ah Itsna As’ariyah. Istilah itu memberikan bahwa sekte Syi’ah Sab’iyah hanya mengikuti tujuh imam, yaitu Ali, Hasan, Husen, Ali Zaenal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far As-Shadiq, dan Ismail bin Ja’far. Karena dinisbatkan pada imam ketujuh, Ismail bin Ja’far As-Shadiq, Syi’ah Syab’iyah disebut juga Syi’ah Ismailiyah.
2.      Doktrin Imamah dalam Pandangan Syi’ah Syab’iyah
Para pengikut Syi’ah Syab’iyah percaya bahwa Islam dibangun oleh tujuh pilar seperti dijelaskan Al-Qadhi An-Nu’man dalam Da’aim Al-Islam. Tujuh pilar tersebut adalah  iman, taharah, shalat, zakat, shaum, haji, dan jihad.
Berkaitan dengan pilar pertama, yaitu iman, Qodhi An-Nu’man merincinya sebagai berikut : Iman kepada Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; iman kepada surga; iman kepada neraka; iman kepada hari kebangkitan; iman kepada hari pengadilan; iman kepada nabi dan rasul; iman kepada imam, percaya, mengetahui, dan membenarkan imam zaman.
Syarat-syarat imam dalam pandangan Syi’ah Syab’iyah adalah sebagai berikut :
a.       Imam harus berasal dari keturunan Ali melalui perkawinannya dengan Fatimah yang kemudian dikenal dengan ahlul bait.
b.      Imam harus berdasarkan penunjukan nas.
c.       Imam harus maksum.
d.      Imam harus dijabat oleh orang yang paling baik.

D.    SYI’AH ZAIDIYAH
1.      Asal-usul Syi’ah Zaidiyah
Disebut Zaidiyah karena sekte ini mengakui Zaid bin Ali sebagai imam kelima, putra imam keempat, Ali Zaenal Abidin. Dari nama Zaid bin Ali inilah, nama Zaidiyah diambil.
2.      Doktrin Imamah Menurut Syi’ah Zaidiyah
Imamah,sebagaimana yang telah disebutkan, merupakan doktrin fundemental dalam Syi’ah secara umum. Berbeda dengan doktrin imamah yang  dikembangkan oleh Syi’ah lainnya. Kaum Zaidiyah menolak pandangan yang menyatakan bahwa seorang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi SAW, telah ditentukan nama dan orangnya oleh nabi, tetapi hanya ditentukan sifat-sifatnya saja oleh Nabi SAW.
Selanjutnya, menurut Zaidiyah, seorang imam paling tidak  harus memiliki ciri-ciri yaitu. Pertama, ia merupakan keturunan ahl al-bait, baik melalui garis Hasan dan Husen. Kedua, memiliki kemampuan mengangkat senjata sebagai upaya untuk mempertahankan diri atau menyerang.
Bagi kaum Zaidiyah percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal dalam neraka jika ia belum bertobat dengan pertobatan yang sesungguhnya.
Di samping itu pula Syi’ah Zadiyah menolak nikah mut’ah dan menolak doktrin taqiyah, padahal menurut Thabathaba’i, taqiyah merupakan salah satu doktrin yang penting dalam Syi’ah.

E.     SYI’AH GHULAT
1.      Asal-usul Penamaan Syi’ah Ghulat
Istilah ghulat berasal dari kata (- يغل- غلو  غل)  yang artinya bertambah dan naik. Ghala bi ad-din artinya memperkuat dan menjadi ekstrim sehingga melampaui batas. Syi’ah Ghulat adalah kelompok pendukung Ali yang berlebih-lebihan atau ekstrim. Lebih jauh, Abu Zahrah menjelaskan bahwa Syi’ah Ghulat adalah kelompok yang menempatkan Ali pada derajat ketuhanan, dan ada yang mengangkat pada derajat kenabian, bahkan lebih tinggi daripada Nabi Muhammad SAW.
2.      Doktrin-doktrin Syi’ah Ghulat
Menurut Syahrastani, ada empat doktrin yang membuat mereka ekstrim, yaitu tanasukh, bada’, raja’ah, dan tasbih. Moojan Momen menambhkannya  dengan halul dan ghayba. Tanasukh adalah keluarnya roh dari satu jasad dan mengambil tempat pada jasad yang lain.
a.      Bada’ adalah keyakinan bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmu-Nya, serta dapat memerintahkan suatu perbuatan kemudian memerintahkan yang sebaliknya.
b.      Raj’ah ada hubungannya dengan mahdiyah. Syi’ah Ghulat mempercayai bahwa imam Mahdi Al-Muhtazar akan datang ke bumi.
c.       Tasbih artinya menyerupakan, mempersamakan. Syi’ah Ghulat menyerupakan salah seorang imam mereka dengan Tuhan atau menyerupakan Tuhan dengan makhluk.
d.      Halul artinya Tuhan berada pada setiap tempat, berbicara dengan semua bahasa, dan ada pada setiap individu manusia. Bagi Syi’ah Ghulat berarti Tuhan menjelma dalam diri imam sehingga imam harus disembah.
e.       Ghayba artinya menghilangnya Imam Mahdi. Ghayba merupakan kepercayaan Syi’ah Ghulat bahwa Imam Mahdi itu ada di dalam negri ini dan tidak dapat dilihat oleh mata biasa.


KESIMPULAN

ü  Syi’ah adalah sebagian kaum muslimin yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW. Atau orang yang disebut sebagai ahl al-bait.
ü  Kepemimpinan Ali dalam pandangan Syi’ah tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Nabi SAW pada masa hidupnya. Pada awal kenabian, ketika Muhammad SAW, diperintahkan menyampaikan dakwah kepada kerabatnya, yang pertama menerima adalah Ali bin Abi Thalib. Diceritakan bahwa Nabi pada saat itu mengatakan bahwa orang yang pertama-tama memenuhi ajakannya akan menjadi penerus dan pewarisnya.
ü  Bukti utama sahnya Ali sebagai penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. Diceritakan bahwa ketika kembali dari haji terakhir, dalam perjalanan kari Mekkah ke Madinah, di suatu padang pasir yang bernama Ghadir Khumm. Nabi memilih Ali sebagai penggantinya di hadapan massa yang penuh sesak yang menyertai beliau.



DAFTAR PUSTAKA

·         Rozak, Abdul, dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pusta Setia, Bandung, 2001.
·         Nu’man, Qodhi, Al-, Da’aim Al-Islam, Kairo, 1951.
·         Nasution, Harun, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional, UI Press, 1987.






0 comments:

Post a Comment

"Perhatikanlah apa yang ditulis dan jangan perhatikan siapa yang menulis"

***KOMENTAR ANDA SANGAT BERHARGA***