"TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA"

Tuesday, July 3, 2012

Hakekat Ruang dan Waktu


Kembali ke masa lalu adalah hal paling mustahil untuk dilakukan, namun secara teoritis kembali ke masa lalu bukan tidak mungkin. Teori Albert Einstein, mengatakan bahwa dalam perhitungan-perhitungan ilmiah, manusia tidak hanya berurusan dengan tinggi, lebar dan panjang; melainkan juga dengan satu dimensi lain, yaitu waktu. Sebuah teori Einstein menyatakan bahwa konsep ruang waktu dan energi materi bukanlah dua kesatuan yang terpisah sama sekali. Keduanya bisa terjalin dalam keadaan tertentu. Dan kalau itu benar-benar terjadi, tidaklah mustahil benda bisa muncul dan lenyap secara mendadak, seakan-seakan mengalami proses dematerialisasi. Di mana proses pelenyapan pesawat terbang, kapal dan lainnya di Segitiga Bermuda tidak lain karena peristiwa ini.[1]
Menurut ajaran Newton ruang dan waktu adalah objektif, mutlak dan bersifat universal. Ruang mempunyai tiga matra, yaitu atas-bawah, depan belakang, kiri kanan. Sedangkan waktu hanya bermatra depan belakang. Di dalam ruang kita dapat pergi ke setiap arah; di dalam waktu kita hanya dapat pergi ke depan. Untuk dapat menjelaskan bahwa ruang dan waktu bersifat mutlak, maka Newton mengemukakan hukum gerakan yang hakiki dari fisika kuno sebagai berikut :”Suatu benda terus berada dalam keadaan diam atau bergerak, kecuali apabila mendapat pengaruh dari suatu keadaan yang terdapat di luar dirinya. Jika sesuatu benda dalam keadaan bergerak, maka ia akan tetap bergerak, kecuali jika ada sesuatu – sesuatu kekuatan – yang mengubah gerakan tersebut. Gerakan merupakan akibat suatu kekuatan yang mempengaruhi massa”. Jadi di sini gerakan bersifat mutlak yang terjadi di dalam ruang dan waktu; dengan demikian ruang dan waktu juga bersifat mutlak.[2]
Paradoks yang terkenal dikemukakan oleh Zeno (kira-kira 490 – 430 S.M.), ia menyatakan bahwa banyak keganjilan akan terjadi jika orang mengatakan bahwa gerakan merupakan suatu kenyataan. Salah satu paradoks dikemukakan di sini yaitu “anak panah yang melayang” (Jika kita memiliki anak panah ukuran 3 meter berarti menempati ruang sepanjang 3 meter, kemudian anak panah itu kita lepaskan dan bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Setiap saat dalam keadaan melayang anak panah tersebut tetap berukuran 3 meter berarti menempati ruang sepanjang 3 meter. Sedangkan kita mengatakan bahwa berukuran sepanjang 3 meter berarti menempati ruang sepanjang 3 meter dan berhubung dengan itu, maka setiap saat dalam keadaan melayang anak panah tersebut berada dalam keadaan diam. Maka dalam hal ini terdapat suatu contradictio in terminis).

Ruang dan waktu mempengaruhi cara benda bergerak dan forsanya, sebaliknya ruang-waktu juga dipengaruhi oleh cara benda itu bergerak dan forsanya bekerja. Dengan demikian, ruang – waktu tidak hanya dipengaruhi juga mempengaruhi semua kejadian dalam alam semesta ini, artinya ruang-waktu sangat dinamis atau berubah. Perubahan itu disebut memuai atau mengembang. Berawal dari suatu waktu yang tak terhingga dimasa lalu dan akan berakhir pada suatu waktu yang tak terhingga di masa depan.[3]
Keajaiban yang diciptakan alam dengan jelas dan pasti memberitahu kita, bahwa pada abad ke-20 yang baru saja berlalu, secara membingungkan terjadilah sesuatu yang tak habis dimengerti yaitu waktu berputar kembali. Secara teori, bahwa waktu berputar kembali, dan kembali ke masa lalu bukan tidak memungkinkan. Menurut teori Einstein, waktu dan ruang dapat mengalami perubahan dalam kecepatan cahaya. Jadi, seandainya suatu benda terbang dengan kecepatan 300000 km/detik, maka ruang bisa di perpendek, dan waktu bisa diperlambat.[4]
Menurut Alexander, jika kita berusaha memehami ruang dan waktu dalam keadaan apa adanya, maka yang terjadi ialah bahwa kita berusaha memahami benda-benda serta kejadian-kejadian dalam keadaannya yang paling sederhana serta paling mendasar dalam ruang (extension) serta bertahan dalam waktu (enduring), dengan segenap sifat-sifat yang dipunyai oleh kedua macam ciri tersebut. Baik ruang maupun waktu tidak berada sendiri-sendiri secara terpisah, dan kedua-duanya tampil di depan kita secara empiris. Jika tidak ada waktu, maka tidak mungkin ada bagian dari ruang, bahkan yang ada hanyalah kehampaan belaka; dan demikian pula halnya dengan ruang, dalam hubungannya dengan waktu.
Selanjutnya, sehubungan dengan itu tidak mungkin ada titik-titik yang menyusun ruang, tanpa sekelumit waktu yang dapat menimbulkan gagasan kejadian-kejadian murni (pure events) sehingga dapatlah dikatakan bahwa ruang – waktu merupakan keadaan yang nyata yang paling dalam dan merupakan tempat persemaian bagi apa saja yang ada di alam ini. Ruang dan waktu merupakan sesuatu yang menjadi sumber bagi adanya segala sesuatu, sedangkan kejadian-kejadian yang murni merupakan penyusun terdalam dari apa saja yang bereksistensi. Apabila kejadian-kejadian murni tersebut membentuk suatu pola tertentu, maka munculah kualitas-kualitas fisik tertentu, misalnya sebuah elektron dengan ciri-cirinya. Jadi materi merupakan sesuatu yang pertama-tama muncul dari ruang – waktu.
Sebagai contoh kita perhatikan partikel subatom, seperti sebuah electron. Bagaimana kita menggambarkan partikel tersebut ? Tidak seorangpun dapat melihat suatu partikel subatom; partikel ini mungkin berupa sejenis perubahan dalam ruang pada suatu waktu tertentu; artinya suatu kejadian yang murni yang hanya dapat disimak melalui kejadian-kejadian tertentu yang dicatat oleh “ pointer-reading”, misalnya oleh instrumen mikroskop elektron. Hasil-hasil penggabungan kejadian-kejadian murni menimbulkan materi yang lebih rumit dan mempunyai sifat-sifat tertentu pula.
Teleskop NASA Fermi Singkap Bukti Teori Ruang-Waktu
Balapan di alam semesta selama 7,3-milyar-tahun, dua partikel bermuatan tinggi telah tertangkap oleh Telescope Ruang Angkasa Sinar Gamma Fermi NASA berselang tidak lebih dari sedetik antara satu sama lainnya. Para ilmuwan gembira dan percaya hal ini bisa menjadi bukti teori ruang-waktu yang diungkapkan oleh Einstein, menurut laporan Daily Mail.
Foton diluncurkan pada maraton selama ledakan pendek sinar gamma, suatu pencurahan radiasi yang kemungkinan dihasilkan oleh tabrakan dari dua bintang neutron, benda-benda yang dikenal paling padat di alam semesta. Salah satu foton memiliki energi satu juta kali lebih banyak dari yang lain tetapi mereka (dua foton)  tiba pada saat yang hampir bersamaan.
Dalam visi Einstein tentang kesatuan ruang-waktu semua bentuk radiasi elektromagnetik, dari sinar gamma hingga sinar-X, ia dianggap melakukan perjalanan melalui ruang hampa udara dengan kecepatan yang sama, tidak peduli berapa banyak energi yang mereka miliki.
Tetapi dalam beberapa teori-teori baru tentang gravitasi, ruang-waktu dianggap memiliki 'pergeseran, struktur berbusa' ketika dilihat pada skala triliunan kali lebih kecil daripada elektron. Model baru mengenai alam semesta ini mengatakan 'tekstur berbusa' ini akan memperlambat energi foton yang lebih tinggi dibandingkan dengan energi yang lebih rendah satu tingkat.
Hasil penelitian Teleskop Fermi menunjukkan bahwa hal ini tidak terjadi sesuai dengan yang ilmuwan yakini berselang sembilan-persepuluh detik, ketika tersebar di lebih dari tujuh milyar tahun, terlalu kecil untuk menjadi signifikan.[5]
Pembelokan Cahaya
Dalam fisika klasik, kita menganggap ruang dan waktu sebagai latar yang tetap (fixed background), yaitu seperti panggung atau arena, di mana partikel-partikel menari di atasnya. Dengan sudut pandang itu, kita bisa membuat model geometri yang tetap untuk ruang dan waktu, lalu setelahnya kita bisa merumuskan persamaan untuk mengambarkan dinamika dari partikel-partikel, dan ruang-waktu bersifat absolut, tidak terpengaruh oleh gerakan partikel-partikel. Mungkin gambaran seperti ini yang sekilas bisa kita terima berdasarkan intuisi dan pengalaman sehari-hari. Namun teori relativitas membuktikan bahwa sudut pandang itu adalah salah, dan teori relativitas telah diuji melalui eksperimen. Menurut teori relativitas, ruang-waktu adalah dinamis.
Geometri ruang-waktu tidaklah statis, tetapi bergantung pada distribusi materi dan energi. Jadi sudut pandang teori relativitas adalah bahwa ruang-waktu adalah relasional, bukan absolut. Dalam fisika klasik, seandainya semua materi dihilangkan dari alam semesta, akan tertingal sebuah ruang-waktu yang absolut. Tetapi dalam fisika relativitas, jika semua materi dihilangkan, tidak ada yang tersisa - tidak ada ruang-waktu jika tidak ada materi. Ruang-waktu tidaklah eksis dengan sendirinya, tapi ruang-waktu adalah network dari hubungan dan perubahan. Jadi pelajaran utama dari teori relativitas adalah bahwa teori fisika haruslah bebas latar (background independent), yaitu bahwa teori fisika tidak didefinisikan dalam latar ruang-waktu yang statis seperti dalam fisika klasik.[6]
Implikasi Terhadap Pemikiran Teologis
Konsepsi TR tentang waktu telah memberi implikasi yang besar terhadap pemikiran-pemikiran teologis. Yang menjadi sorotan penulis dalam hal ini adalah permasalahan yang ada dalam perdebatan tentang Tritunggal. Salah satu permasalahan dalam ketritunggalan Allah adalah bagaimana menjelaskan hubungan Kristus dengan Allah Bapa. Penjelasan hubungan Kristus dengan Allah Bapa cenderung berimplikasi pada subordinasi Kristus, baik dalam urutan waktu, maupun dalam essensi/substansi. Dikatakan adanya subordinasi dalam waktu karena adanya pengertian bahwa Bapa ada sebelum Anak. Dan adanya subordinasi essensi karena adanya pengertian kausalitas, di mana Bapa sebagai penyebab keberadaan Anak (dan Roh Kudus). Keterikatan yang a priori manusia pada waktu nampak dengan jelas dalam perdebatan teologis tentang Tritunggal.
Bagaimana menjelaskan hubungan Bapa, Anak dan Roh Kudus terlepas dari ide waktu yang a priori? Anak diperanakkan (generate) dari Bapa, dan Roh Kudus berasal (procced) dari Bapa dan Anak. Berbagai pemikiran telah dicetuskan untuk menjelaskan masalah ini. Pemecahan untuk masalah ini telah dikemukakan dari berbagai aspek.
Bagi Origen, jika Anak berasal (generate) dari Bapak dan Roh Kudus berasal (procced) dari Bapa dan Anak, maka ini memberi implikasi pengertian: (1) Ada permulaan pada diri Anak dan Roh Kudus. (2) Pada diri Allah ada suatu perubahan, sehingga terjadi sesuatu yang baru. Bagi Origen hal ini tidak mungkin. Pada diri Allah tidak ada sesuatu yang terjadi sehingga muncul sesuatu yang baru (dalam keterkaitan secara a priori pada waktu), dan terjadi perubahan.[7]
Sumber Bacaan
·         http://www.forumsains.com
·         http://alkitab.sabda.org



[1] http://erabaru.net/iptek/83-teka-teki/18624-misteri-ruang-dan-waktu
[2] http://wongalus.wordpress.com/2009/05/29/hakekat-ruang-dan-waktu/
[3] http://kaisnet.wordpress.com/2011/09/22/ruang-dan-waktu-yang-dinamis/
[4] http://anjarlinux.staff.uns.ac.id/2008/12/03/misteri-ruang-dan-waktu/
[5] http://www.erabaru.net/iptek/81-antariksa-astronomi/6570-teleskop-nasa-fermi-singkap-bukti-teori-ruang-waktu
[6] http://www.forumsains.com/fisika/pembelokan-cahaya-atau-ruang-dan-waktu/
[7] http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=356&res=jpz#





0 comments:

Post a Comment

"Perhatikanlah apa yang ditulis dan jangan perhatikan siapa yang menulis"

***KOMENTAR ANDA SANGAT BERHARGA***