[6][recent][slider-top-big][Latest Post]
You are here: Home / Islam dan Radikalisme

Islam dan Radikalisme

| No comment

Beberapa waktu yang lalu, sejumlah pendeta Kristen Amerika menyesalkan kecenderungan media massa Amerika untuk menghubungkan terorisme yang terjadi di Timur Tengah, atau yang dari Timur Tengah, dengan ajaran Islam. Para pendeta Kristen itu tahu bahwa tidak ada secuil pun ajaran Islam yang membenarkan teror, sehingga mereka menganggap media massa Amerika sebagai sangat tendensius, dan telah teperangkap ke dalam kepentingan politik tertentu. Para pendeta Kristen itu tampaknya memiliki tanggung jawab moral untuk meluruskan persepsi keliru media massa Amerika tentang Islam.
Sesungguhnya, jika kita perhatikan justru ada kecenderungan pelbagi media massa Barat yang menghubungkan terhadap radikalisme dengan ajaran Islam, seolah-olah Islam merekomendasikan tindakan-tindakan radikal. Sudah tentu persepsi ini sangat jauh dari kebenaran, jelas suatu hal yang mustahil bila Islam sebagai agama wahyu, pedoman hidup manusia sampai mengajarkan tindakan-tindakan yang radikal.
Dalam hal ini, kita sendiri tetap optimis karena Allah justru akan meyempurnakan cahaya Islam (cahaya-Nya), walaupun orang-orang kafir mencoba meredupkannya dengan mulut-mulut mereka, termasuk lewat media massa. Sebagaimana diterangkan dalam surah Ash-Shaf: 8 yang artinya: ” Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya".
Pengertian Radikalisme
Secara etemologis, radikalisme berasal dari kara radix, yang berarti akar. Seorang radikal adalah seseorang yang mengingkari perubahan terhadap situasi yang ada dengan menjebol sampai ke akar-akarnya. Sebuah kamus menerangkan bahwa “seorang radikal adalah seseorang yang menyukai perubahan-perubahan cepat dan mendasar dalam hukum dan metode-metode pemrintahan.” Jadi, radikalisme dapat difahami sebagai suatu sikap atau posisi yang mendambakan perubahan terhadap ststus quo dengan jalan menghancurkan status quo secara total, dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, yang sama sekali berbeda.
Menurut sebagian ahli, radikalisme ditandai oleh tiga kecenderungan umum. Pertama, radikalisme merupakan respons terhadap kondisi yang sedang berlangsung. Respons tersebut muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan, atau bahkan perlawanan. Masalah-masalah yang ditolak dapat berupa asumsi, ide, lembaga, atau nilai-nilai yang dapat bertanggung jawab terhadap keberlangsungan keadaan yang ditolak.
Sementara itu radikalisme menurut pengertian lain adalah inti dari perubahan itu cenderung menggunakan kekerasan (Barry, Kamus Ilmiah Populer : l994). Dan pada dasarnya makna makna posisitf dari radikalisme adalah spirit perubahan menuju yang lebih baik itu. Dalam istilah agama disebut ishlah (perbaikan) atau Tajdid (pembaharuan). Dengan begitu radikalisme bukan sinonimnya ektrimitas, kekerasan. Apa yang disebut Ghuluw (melampaui batas) dan Ifrath (keterlaluan) kita tolak. Memang ada dua spirit perubahan di situ yaitu positif dan negatif. Kita mengusung perubahan dalam maknanya yang positif. Keteledoran Sejarah? Secara demikian gambaran hakikat Islam itu tentu perlu diperjelas. Artinya hakikat Islam itu adalah menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, objektivitas, fariness. Selanjutnya Islam menginginkan menjadi umataan washataa. “Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul ( Muhammad) menjadi saksi atas (pebuatan) kamu. (Al Baqarah 143).

Asal-usul Radikalisme
Menurut sebagian kajian, akar dari munculnya radikalisme ini bermacam-macam, ada yang karena faktor sosial politik, faktor emosi keagamaan, faktor kultural, faktor ideologis anti-Barat, dan faktor kebijakan pemerintah.
Terkait dengan akar munculnya radikalisme paham keagamaan tidak terlepas dari adanya pemahaman keagamaan yang didasarkan atas makna literer dari dalil-dalil al-Quran dan al-Hadis. Pemahaman terhadap dalil syari hanya dilakukan dengan menggunakan pendekatan literer ini membahayakan, karena dapat menggelincirkan seseorang dalam kesalaham pemahaman nash. Karena dalam pengambilan suatu hukum dari dalil-dalil syari (istinbath al-hukm) harus melewati seperangkat metodologi yang telah diformulasikan oleh para ulama, baik dengan cara pemahaman terhadap makna harfiah dari nash (manthuq) ataupun dengan cara menggali lebih dalam makna tersembunyidari nash (mafhum). Apabila pemahaman terhadap nash ini dipaksakan hanya dengan mempergunakan cara pemahaman literer, apalagi kalau tidak diimbangi dengan penguasaan yang mendalam terhadap nash-nash syari yang ada, karena pemahaman terhadap nash secara literer dan parsial cenderung bisa menyesatkan, dan dikhawatirkan akan timbul pemahaman yang ekstrim (tatharruf) dalam menyimpulkan hukum.
Konsekuensi dari terjadinya radikalisme adalah terbentuknya politisasi di dalam agama, di mana agama memang sangat sensistif sifatnya, paling mudah membakar fantatisme, paling mudah juga menjadi “kipas” paling kencang untuk melakukan berbagai tindakan yang sangat keras, baik di dalam kehidupan sosial antar individu maupun kelompok. Pembenaran atas nama agama tidak bisa dihindari, oleh karena itulah ada yang disebut dengan religio political system (Smith) dan religions mindedness (Geertzz) yang merupakan sebuah proses terbentuknya ideologi agama. Sehingga kemudian tidak heran bila dalam posisi dan konteks seperti demikian, agama bisa dikatakan sebagai pembentuk radikalisme dan konflik kekerasan. Sangat berlawanan jauh dengan konsep keberadaan agama itu sendiri yang justru mengarahkan manusia untuk memiliki cinta dan kasih sayang terhadap sesama untuk mewujudkan kebahagian dan kedamaian baik secara individu maupun kelompok dan bahkan universal.
Adanya perbedaan ideologis di antara tokoh-tokoh atau kelompok-kelompok teroris menimbulkan friksi yang berujung pada perbedaan pemahaman mengenai orientasi, strategi, dan taktik. Ini juga sebagai salah satu sebab munculnya radikalisme.
Secara sosiologis, bisa diterangkan bahwa radikalisme kerap muncul bila terjadi banyak kontradiksi dalam orde sosial yang ada. Bila masyarakat mengalami anomie atau kesenjangan antara nilai-nilai dengan pengalaman, dan para warga masyarakat merasa tidak mempunyai lagi daya untuk mengatasi kesenjangan itu, maka radikalisme dapat muncul ke atas permukaan. Dengan kalimat lain, akan timbul proses radikalisme dalam lapisan-lapisan tertentu masyarakat, terutama di kalangan muda.
Proses radikalisasi pada umumnya timbul bila dalam masyarakat memang terdapat faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab hadirnya radikalisme. Nikaragua di zaman Somoza, Filipina di masa Marcos, Iran di masa Syah, dan Afrika Selatan di bawah Botha sekarang ini dapat menjadi contoh di mana kontradiksi-kontradiksi sosial polotik dan ekonomi terbukti bisa mendorong terbentuknya proses radikalisasi atau radikalisme.
Masyarakat-Massa Radikalisme
Dewasa ini, kita dapat melihat masalah radikalisme dalam konteks masyarakat-massa yang menjadi ciri dunia saat ini. Tipe masyarakat-massa ini sudah sejak lama dibahas oleh para sosiologi klasik, termasuk Max Weber. Dalam bukunya yang monumental, The Protestant Etyhic and thr Spirit of Capitalism, Weber sudah memperhatinkan bagaimana kapitalisme yang mula-mula begitu optimistis terhadap masa depan manusia, kemudian menglami rutinisasi-ritualistis, suasana yang sangat monoton dan fatalisme.
Bila orang telah kehilangan raison d’etre dan ”tersaing” dari sesama warga masyarakat akibat rutinisasi-ritualistis kapitalisme dalam suatu eksistensi industrial, orang cenderung tertarik pada godaan-godaan radikalisme yang menjanjikan suatu solusi utopian. Godaan-godaan radikalisme ini makin kuat bersamaan dengan kian merosotnya otoritas-sentral dan wibawa masyarakat. Mundurnya otoritas-sentral ini berarti ada proses delegitimasi atas kaum elite legal dan tradisional, yang memperolah legetimasi dari massa masyarakat itu sendiri. Sedangkan mundurnya wibawa masyarakat berarti makin banyak orang mengalami alienasi terhadap masyarakat, dan bahkan terhadap dirinya sendiri.
Pada saat yang bersamaan, mobilitas vertikal dan horizontal serta mobilitas spasial dan sosial kian intensif, dan menyebabkan setiap orang menjadi sadar akan statusnya. Situasi masyarakat-masa industrial memorak-porandakan satatus yang sudah mapan, sehingga setiap orang kehilangan perasaan yang koheran terhadap dirinya sendiri. Kekhawatiran-kekhawatiran masyarakat terus meningkat, dan bersamaan dengan itu usaha-usaha mancari keyakinan-keyakinan baru juga bermunculan.
Dalam seperti situasi itulah gagasan-gagasan radikal sering dapat memperoleh pengikut yang bersifat massal. Dengan kalimat lain, radikalisme mampu melakukan rekrutmen pada kelompok-kelompok masyarakat-massa, sehingga bobot politiknya tidak bisa diabaikan.
Perubahan Sosial dalam Islam
Al-qur’an mengakui bahwa fenomena segala sesuatu di alam semesta terus berubah, termasuk masyarkat manusia, yang tidak pernah berubah adalah Al-Khaliq sendiri (Qs. Ar-Rahman: 27), dan nilai-nilai ilahiah atau tauhid. Sunnatullah pun akan terus berlaku sepanjang masa, tanpa mengalami perubahan (Qa. Fathir: 43).
Bila kita berbicara tentang perubahan sosial, pada umumnya kita akan bertemu dengan tiga macam pendekatan, yaitu; pendekatan konservatif, radikal atau revolusioner, dan pendekatan remormis. Dalam peradaban Islam, pendekatan konservatif jelas tidak diunggulkan. Konservatisme biasanya didukung oleh kaum formalis dan para pembela-buta terhadap tradisi, serta mereka yang tergolong kaum ulama obskurantis. Konservatisme mengarah pada pelestarian adat-istiadat yang sesungguhnya sudah lapuk dan berwatak irasional. Pendekatan konservatisme meremehkan perlunya perubahan dan “modernisasi”, karena dianggap dapat merusak tradisi yang sudah berjalan berabad-abad. Pendekatan ini juga mencukupkan diri dengan apa-apa yang sudah diterima dari para nenek-moyang atau leluhur, tanpa mau meninjau kembali substansi yang lebih esensial. Sikap konservatisme ini decela tegas oleh kitab suci (Qs. Al-Maidah: 104).
Pendekatan radikal-revolusioner mengarah pada pencerabutan tradisi sampai ke akar-akarnya, dan menganggap pelestarian tradisi sebagai penyebab stagnasi sosial. Padahal, tidak semua tradisi berkonotasi dan bersubstansi negatif-destruktif. Dalam bahasa Al-qur’an tradisi yang baik disebut urf  (Qs. Al-A’rof: 199) atau ma’rufat, yakni kualitas-kualitas baik yang sudah dikenal luas, seperti yang tercantum dalam pelbagi surat Al-qur’an.
Adapun pendekatan reformis, sebagai jalan-tengah antara konservatisme dan radikalisme, memang lebih dekat dengan ajaran Islam, tetapi belum sepenuhnya mencerminkan pendekatan perubahan sosial seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Reformis menekankan perubahan perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit, akan tetapi dalam praktek sering tidak dapat diterapkan, karena ketakutan-ketakutan internal dan eksternal yang anti terhadap perubahan dan anti kemjuan memperolah waktu longgar untuk menyusun kekuatan guna menjegal reformis.
Secara demikian, pendekatan Nabi atau sebutlah pendekatan Islam sudah terbukti teruji dalam panggung sejarah umat manusia:
·         Peubahan sosial hanya akan berjalan baik sesuai dengan cita-cita luhur masyarakat jika lebih dahulu diadakan perubahan mental dan oreintasi manusianya.
·         Nabi telah memperliatkan bahwa sebagian besar tradisi dapat dilestarikan bentuknya, tetapi dengan mengubah maknanya secara revolusioner. Nabi melestariakan wadah dan format tradisi yang sudah berakar berabad-abad dan turun temurun dari generasi ke generasi, tetapi beliau mengubah isi dan substansinya. Spirit dan arah tradisi itu diperbaharui dan diluruskan, sehingga tidak perlu membuat shock masyarakat kebanyakan.
·         Islam sangat menganjurkan perubahan sosial, bahkan perubahan hukum secara bertahap. Dalam sejarah hukum Islam sendiri tampak jelas bagaimana Allah menurunkan hukum-Nya secara perlahan-lahan dan bertahap. Contoh kilise adalah mengenai pelarangan meminum minuman keras. Mula-mula ditanamkan pengertian bahwa mudharat khamr labih besar daripada manfa’atnya. Kemudian dikatakan bahwa peminum khamr adalah teman setan, dan akhirnya khamr dinyatakan haram. Jiwa metode tasyri’ seperti inilah yang perlu dan harus diterapkan.

Sumber Bacaan
·         Rais, Amien –Cakrawala Islam, Bandung: Penerbit Mizan.