Dalam
membangun Keluarga Sakinah perlu dilandaskan pada lima asas yaitu: pertama,
asas karamah insaniyah, yaitu menempatkan manusia (laki-laki dan perempuan)
sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kemuliaan dan kedudukan utama. Pandangan
kemanusiaan (humanisme religius) ini dilandasi pesan normatif Allah dalam surat
al-Isra’ ayat 70.
۞وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ
وَحَمَلۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ
وَفَضَّلۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ كَثِيرٖ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلٗا ٧٠
Artinya:
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di
daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami
lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang
telah Kami ciptakan
Kedua,
asas hubungan kesetaraan, yaotu pola hubungan antar manusia yang didasarkan
pada sikap penilaian bahwa semua manusia mempunyai nilai sama. Perbedaan status
dan peran seseorang tidak menimbulkan perbedaan nilai kemanusiaannya di hadapan
orang lain. Hubungan kesetaraan yang dilandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan
dan ketakwaan diabadikan Allah dalam surat al-Hujurat ayat 13.
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا
وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ
إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣
Artinya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Ketiga,
asas keadilan, yaitu adil terhadap diri, kemudian diikuti adil pada pasangan,
anak-anak, orangtua, serta kerabat. Adil terhadap diri dalam arti mampu
memenuhi kebutuhan dan hak-hak diri, baik kebutuhan badani, jiwani, spiritual,
maupun sosial secara seimbang dan baik. Bersikap adil terhadap keluarga nampak
dalam perlakuan dan pemenuhan hakhak semua anggota keluarga secara baik dan
seimbang. Allah telah mengingatkan agar keadilan dapat ditegakkan dalam
keluarga meskipun berat melakukannya, seperti firman Allah dalam surat an-Nisa’
ayat 135.
۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ
قَوَّٰمِينَ بِٱلۡقِسۡطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ أَوِ ٱلۡوَٰلِدَيۡنِ
وَٱلۡأَقۡرَبِينَۚ إِن يَكُنۡ غَنِيًّا أَوۡ فَقِيرٗا فَٱللَّهُ أَوۡلَىٰ بِهِمَاۖ
فَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلۡهَوَىٰٓ أَن تَعۡدِلُواْۚ وَإِن تَلۡوُۥٓاْ أَوۡ
تُعۡرِضُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٗا ١٣٥
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak
keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu
bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu
kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin
menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau
enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa
yang kamu kerjakan.
Keempat,
asas mawaddah wa rahmah (kasih sayang), yaitu keadaan jiwa pada masing-masing
individu anggota keluarga yang memiliki perasaan lekat secara suka rela pada
orang lain, yang diikuti oleh dorongan dan usaha untuk menjaga dan
melindunginya. Asas ini menjadi sumber suasana ketentraman, kedamaian,
keharmonisan, kekompakan, kehangatan, keadilan, kejujuran, dan keterbukaan
dalam rumah tangga untuk terwujudnya kebaikan hidup di dunia dan akhirat yang
diridlai Allah Swt sebagaimana dalam surat ar-Rum ayat 21.
وَمِنۡ
ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ
إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ
لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ٢١
Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Kelima,
asas pemenuhan kebutuhan hidup sejahtera dunia akhirat. Secara fitrah manusia
lahir membawa beberapa potensi kemanusiaan yang akan berkembang selama
hidupnya. Manusia memiliki beberapa kebutuhan yang perlu dipenuhi oleh keluarga
untuk mengembangkan potensinya seperti kebutuhan spiritual, kebutuhan
pendidikan, kebutuhan ekonomi, kebutuhan hubungan sosial, dan kebutuhan
kesehatan dan pengelolaan lingkungan.
”