“Kualitas diri seseorang tidak ditentukan oleh penampilan fisik,
melainkan dari kualitas kepribadiannya”
Setiap orang bisa mengetahui orang lain, tetapi tidak semua dapat
mengenali keadaan dirinya sendiri. Itulah keuntungan diciptakannya alat yang
dikenal dengan cermin. Melalui cermin seseorang mengetahui bentuk fisik dirinya
sendiri.
Dengan cermin pula dia akan mengetahui apakah penampilan dirinya
sudah tepat, baju, celana, dan pakaian lain yang dikenakan sudah sesuai dengan
yang dikehendaki. Seandainya tidak ada cermin, kiranya siapa pun tak akan
mengetahui wajahnya sendiri secara persis.
Bagi kebanyakan orang, penampilan fisik menjadi hal penting. Setiap
orang ingin tampil di hadapan orang lain secara sempurna. Tidak ada orang yang
senang menampakkan kekurangannya. Oleh karena itu, sebisa mungkin kekurangan
itu dihilangkan. Karena kekurangan itu tidak mudah diketahui oleh dirinya
sendiri, kecuali lewat cermin. Di sinilah letak pentingnya alat tersebut.
Kaum perempuan memiliki naluri untuk bersolek. Mereka sangat senang
tampil sempurna atau seantik-cantiknya. Tidak mungkin setiap hari mereka pergi
ke salon. Mereka akan berusaha mandiri dalam mepercantik dirinya. Ketika sedang
bersolek sendirian itulah, kaum wanita tak mungkin melakukannya tanpa bantuan
cermin.
Maka dari itu, kaum perempuan tidak bisa lepas dari cermin. Apalagi
di zaman sekarang, kita menyaksikan ke mana saja mereka pergi selalu membawa
cermin yang diselimpkan di tasnya. Dengan cermin itu, setiap waktu seseorang
bisa memperbaiki make-up pada wajahnya.
Dulu, para perempuan merasa terganggu ketika sedang berdandan
dilihat orang. Akan tetapi, saat ini di mana saja bisa dilakukan. Orang tidak
peduli, asal ada alat, termasuk cermin maka kegiatan itu bisa dilakukan. Namun,
hal yang perlu diketahui bahwa cermin hanya bisa digunakan untuk melihat
dirinya sendiri dari sisi fisik. Melihat wajah, pantas atau tidaknya model dan
warna pakaian bisa menggunakan cermin. Padahal sosok diri secara untuk yang
perlu ditampilkan tidak hanya aspek fisiknya, melainkan juga perangai,
perilaku, akhlak, dan lainnya. Untuk mengetahui aspek yang lebih mendalam
tersebut tidak mungkin hanya menggunakan cermin. Diperlukan “alat” lain yang
lebih dari sekedar cermin.
Akhir-akhir ini, kita mengenal lembaga survey untuk mengetahui
akseptabilitas atau popularitas seorang pemimpin atau calon pemimpin.
Keterangan yang hanya bisa dilihat lewat survey itu sedemikian penting untuk
melihat kekuatan diri pemimpin yang bersangkutan.
Tentu saja hasil survey tersebut harganya sangat mahal, dan tidak
sembarang orang bisa melakukannya. Padahal fungsi sebenarnya dari lembaga
survey itu tidak lebih dari sebingkai cermin, sekedar untuk melihat gambaran
tentang diri seseorang.
Pada suatu kesempatan seseorang juga ingin mendapatkan penilaian
dari orang lain. Penilaian itu tentu bisa diperoleh dari teman atau sahabat
dekat. Lewat penilaian itu seseorang bisa memperbaiki penampilan, kesan, atau
kualitas pergaulannya. Tanpa penilaian orang lain maka seseorang tak akan tahu
harus berbuat apa untuk memperbaiki dirinya.
Untuk keperluan tersebut, posisi teman menjadi sedemikian penting.
Namun sayangnya, orang baru gelisah manakala penampilan fisiknya dianggap
kurang sempurna, dan sebaliknya, masih kurang peduli pada penampilan yang
justru lebih esensial, yang berkenan dengan kepribadiannya. Padahal kualitas
diri seseorang tidak hanya ditentukan oleh penampilan fisik, melainkan yang
lebih penting dan itu semua adalah kualitas kepribadiannya.
”