“Sikap
terbaik yang perlu dikembangkan adalah tidak merasa diri paling bersih dan
selalu benar”
Dewasa ini, banyak orang dikagetkan oleh kejadian beberapa tokoh
partai Islam yang melakukan tindak kejahatan korupsi. Padahal seharusnya para tokoh
partai yang jelas-jelas mengusung simbol-simbol Isalam tidak melakukan tindakan
tersebut. Apalagi sekarang sedang gencar gerakan anti dan membenci korupsi.
Sehingga tampak aneh ketika ada tokoh partai politik Islam melawan arus
sedemikian keras.
Partai politik Islam berdiri di atas manhaj dakwah. Aktivitas
dakwah yaitu mengajak kepada siapa pun kepada kebaikan dan menjauhi
kemungkaran. Dan korupsi adalah bagian dari kemungkaran yang harus dicegah dan
diberantas. Seharusnya keberadaan partai politik Islam menjadi kekuatan untuk
menghilangkan kemungkaran dalam berbagai bentuknya, termasuk korupsi.
Beberapa tahun sebelumnya, partai politik Islam menjadi pihak yang
paling keras menyuarakan bahwa Undang-Undang Pornografi adalah sangat penting.
Bagi partai politik Islam, pornografi dianggap sebagai kemungkaran. Banyak
kalangan yang menentang UU tersebut. Akan tetapi, partai politik bersikukuh
pada perjuangannya.
Pada akhirnya, partai politik itu dikenal sebagai elemen uang
benar-benar berusaha menegakkan moral bangsa. Itulah sebabnya, ketika diketahui
ada elit partai politik Islam melakukan korupsi, umat pun merasa terpukul dan
menyesal, bahkan mencemoohnya.
Selama ini, partai politik Islam dituntut agar bersih dan konsisten
dengan nilai-nilai yang selalu diusungnya; sebagai partai dakwah, pemberantas
kemaksiatan, korupsi, dan seterusnya.
Dalam kehidupan ini, harus ada kelompok yang selalu menyeru kepada
kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetapi lagi-lagi, kelompok itu bukan para
malaikat sehingga sebagai manusia biasa
masih memiliki sifat salah dan lupa.
Di mana dan kapan pun, manusia selalu menyandang dua kelemahan;
salah dan lupa. Atas dasar sifat yag disandang itulah manusia dianjurkan untuk
senantiasa saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Manusia tidak
seperti malaikat yang terbebas dari perbuatan salah. Tetapi sebaliknya, manusia
tidak sepenuhnya seperti setan yang selalu salah.
Semua manusia, kecuali nabi, bisa berbuat benar dan salah. Oleh
karena itu, manakala ada seseorang yang berbuat salah sebenarnya itu hal biasa.
Sebagai sesama, tidak seharusnya menyikapi kesalahan itu secara berlebihan.
Sebab, suatu saat kesalahan tersebut tidak menutup kemungkinan akan
dilakukannya sendiri.
Watak seseorang seringkali berubah. Pada saat tertentu dianggap
baik, ternyata di kemudian hari justru berbalik menjadi tidak baik. Hal
demikian itu berlaku bagi setiap orang pada semua strata sosial.
Seseorang yang semula menurut anggapan rakyat baik, jujur, mampu
berbuat adil, cerdas, tulus, berpandangan luas, sanggup mencintai rakyatnya,
dan atas dasar sifat-sifat ini ia dipilih dan diangkat menjadi pemimpin. Tetapi
tidak lama kemudian ternyata melalukan kesalahan fatal. Pemimpin itu berubah
manjadi diktator, mementingkan diri dan keluarganya, bahkan korupsi uang negara.
Contoh tentang perubahan watak seorang pemimpin di atas sangat
mudah dicari, tak terkecuali di negeri kita sendiri. Seseorang yang pada
mulanya diakui kehebatan dan kelebihannya sehingga dicintai oleh rakyat, lalu
ia pun diangkat menjadi pemimpin.
Namun, tak lama kemudian, orang tersebut berbalik, justru yang
tampak adalah keburukannya, korupsi, misalnya. Mereka pun dihujat, dicaci,
dituduh, dan diturunkan dari jabatannya.
Beberapa waktu lalu dikabarkan, setelah kepala daerah dipilih
langsung oleh rakyat, ternyata sudah ada 293 orang yang terjerat kasus korupsi.
Padahal mereka menjadi kepala daerah atas pilihan rakyat. Pilihan itu tentu
didasarkan atas kriteria bahwa yang bersangkutan adalah orang baik.
Namun karena semua manusia kecuali para nabi, memiliki potensi
berbuat salah dan lupa maka sikap terbaik yang perlu dikembangkan adalah siapa
pun tidak perlu merasa diri paling bersih dan selalu benar.
Sesama manusia tidak seharusnya saling menghujat, merendahkan, atau
menghukum dengan cara berlebihan. Bisa jadi pada saatnya nanti orang yang
menghujat, merendahkan, dan menghukum juga akan menerima kenyataan yang sama.
Cara menjalani hidup terbaik menurun ajaran Kitab suci, yaitu agar
sesama manusia senantiasa saling berwasiat dan mengingatkan tentang kebenaran
dan kesabaran. Lewat cara itu, insya Allah semua akan terjaga dan saling
menyelamatkan. Bagi siapa saja kiranya tidak perlu berlebihan dalam bersikap
terhadap orang lain. Sebab, semua orang ternyata menyandang potensi salah dan
lupa.
”