Tidak terasa, sebentar
lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan
yang mulia dan penuh berkah. Keistimewaan Ramadhan bagi umat Islam; karena Ramadhan adalah sebuah Madrasah Kehidupan, serta di
dalamnya nilai kebaikan dan pahala dilipatgandakan. Untuk itu, mari
kita berbenah untuk memantaskan diri
menjadi seorang hamba yang lebih baik; mulai dari sisi keimanan, ibadah dan akhlak perilaku
sehari-hari kita, agar bilamana bulan Ramadhan tiba, diri kita telah benar-benar
siap untuk
menyambut dan menyatu dengan kemuliaannya
Perumpaan
menyambut kehadiran Ramadhan adalah sebagaimana kita menyambut
tamu yang sangat penting. Sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari, apabila kita diberitahu
bahwa besok akan ada seorang tamu penting
yang berkunjung ke rumah kita, maka kita akan
bersiap diri untuk menyambutnya
dengan penyambutan yang terbaik. Apa jadinya jika
pada saat sang tamu penting
telah tiba, sementara kita
tidak siap menyambutnya; rumah berantakan, hidangan belum tersedia dan lain sebagainya, tentu ini akan menghinakan diri kita
sendiri.
Pada bulan Ramadhan, terdapat sebuah amalan yang wajib kita
laksanakan yaitu puasa selama satu bulan penuh. Puasa adalah ibadah yang sangat
istimewa, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits:
كُلُّ
عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ ؛ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى
سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ – تَعَالَى -: إِلَّا الصَّوْمَ ؛ فَإِنَّهُ
لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ؛ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي،
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ ؛ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ
رَبِّهِ، وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ
الْمِسْكِ،
Artinya: Setiap amal kebaikan (yang dilakukan) anak adam akan
dilipatgandakan, satu kebaikan diganjar 10 kali lipat kebaikan semisalnya
sampai 700 kali
lipat, Allâh berfirman,
”Kecuali puasa, sesungguhnya (amalan) puasa itu untuk- Ku dan
Akulah yang akan
memberikan ganjarannya. Ia meninggalkan syahwat, dan makannya karena
Aku. Untuk orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka
puasa dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Dan sungguh aroma mulut
orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allâh dari wangi minyak kasturi. (HR Bukhari dan Muslim).
Selain melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, hendaknya kita juga
melaksanakan amalan-amalan yang utama untuk dilaksanakana. Setidaknya ada empat
amalan yang utama untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan yaitu:
Pertama: Sedekah
Islam mengajak dan menganjurkan kepada kita untuk bersedekah.
Beberapa ayat Al Qur’an memberikan motivasi kepada kita untuk memberikan
kebaikan, Allah SWT berfirman:
مَّثَلُ
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ
أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ
يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٢٦١
Artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat
gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya)
lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 261)
Rasululah adalah pribadi yang dermawan, dan pada bulan Ramadhan
beliau lebih dermawan melebihi bulan-bulan yang lainnya. Sebagaimana dijelaskan
dalam sebuah hadits:
كَانَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ
أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
Artinya: Rasulullah adalah orang paling dermawan di antara manusia
lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan,” (HR Al-Bukhari
dan Muslim).
Dalam hadits yang lain diterangkan tentang keutamaan bersedekah
pada bulan Ramadhan, dan keutamaan bersedekah dengan memberikan buka puasa bagi
orang yang berpuasa.
عَنْ
اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى
رَمَضَانَ
Artinya: “Dari Anas dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang
nilainya paling utama?’ Rasul menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan.” (HR At-
Tirmidzi).
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ
فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ
أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Artinya: “Barang siapa memberi buka puasa pada orang yang berpuasa
maka baginya semisal pahala mereka tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746)
Kedua: Tadarus Al-Qur’an (Membaca Al-Qur’an)
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana
firman Allah SWT:
شَهۡرُ
رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ
مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ
وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ
يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ
ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ
تَشۡكُرُونَ ١٨٥
Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara
yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di
negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan
itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada
hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185)
Al-Qur’an diwahyukan oleh Allah sebagai sumber dari segala sumber
petunjuk bagi umat manusia. Untuk dapat memahami petunjuk Al- Qur’an adalah
dengan tadarus Al-Qur’an, yaitu mempelajari dan mengakaji kandungan Al- Qur’an.
Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Allah SWT memberikan pahala berlipat ganda
bagi siapa saja yang membaca Al-Qur’an:
مَنْ
قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ الَم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ،
وَمِيْمٌ حَرْفٌ
Artinya: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah,
maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali
lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu
satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
Ketiga: Qiyamur Ramadhan (Shalat Tarawih)
Qiyam Ramadhan merupakan ibadah penting sebagaimana ditegaskan
dalam hadis Nabi Muhammad SAW
مَنْ
قَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ
Artinya: Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan atas dasar iman dan
harapan (pahala dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR
al-Bukhari dan Muslim).
Keempat: Berdo’a
Rasulullah SAW bersabda:
الدُّعَاءُ
مُخُّ الْعِبَادَةِ
Artinya: “doa itu merupakan inti dari ibadah” (HR. Tirmidzi).
Bulan Ramadhan adalah
bulan kita bermunajat kepada
Allah. Maka mari
kita perbanyak doa kepada
Allah, dalam berbagai kesempatan. Sehingga
saat Ramadhan tiba, waktu-waktu istimewa yang mustajab,
tidak kita lewatkan begitu saja
tanpa munajat kepada Allah
SWT. Untuk memohon
dan mengadukan segalanya kepada
Allah. Saat waktu
sahur, menunggu shalat, setelah
shalat, menjelang berbuka dan
waktu-waktu lain yang
mustajab. Rasulullah SAW bersabda:
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ
مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Artinya: “Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa
orang yang berpuasa
dan doa seorang musafir.” (HR. Baihaqi).
Tidak lupa mari kita perbanyak berdoa agar dimudahkan dalam
beramal shalih di
bulan Ramadhan. Karena tanpa taufik dan pertolongan Allah, kita
tidak akan mampu
menjalankan ibadah dengan baik. Allah SWT berfirman:
وَقَالَ
رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ
عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠
Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya
akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri
dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina" (QS.
Al-Ghafir: 60).
”