Menangis
adalah salah satu aktivitas normal manusia. Baik kita ini hidup sebagai
laki-laki atau perempuan, kedua-duanya memiliki hal yang sama untuk sedih,
berduka hingga meneteskan air mata. Tidak perlu mencari sebabnya mengapa kita menangis,
apapun “jenis” kita. Kita boleh-boleh saja mengeluarkan air mata atas sebab
apapun, baik itu dipicu oleh sisi psikologi, kimiawi, atau komposisi hormon
sekalipun atau bahkan putus hubungan dengan orang yang terkasih dan tersayang.
Tidak
ada seorang pun yang bisa melarang mata seorang perempuan tergenang dengan dan
merembeskan air mata ketika memotong bawang. Tidak ada undang-undang pun yang
bisa menahan air mata seorang laki-laki meleleh ketika dia mengalami saat sukar
dan merasakan kenangan yang pahit.
Seperti
yang kita ketahui bahwa tidak semua tangisan itu hening. Awalnya memang air
mata yang sudah menggenang di kelopak mata, tapi itu biasanya diikuti dengan
tangisan yang lebih kuat hingga tesedu-sedu seperti kanak-kanak.
Apapun
jenis kelamin kita, tanpa sadar alam bawah sadar kita selalu mengejar setitik
kelegaan selepas menangis. Tanpa sadar, jiwa kita kan terus mencari sesuatu yang sering dikatakan “Tangisan
yang berkesan”, yaitu sebuah tetesan air mata yang memberi kesan baik pada
emosi seseorang sebagaimana saat kita tertawa. Maka dari itu, diri kita selalu
mencari “cara” menangis yang terbaik untuk mengejar kelegaan. Kalau diri kita
merasa dengan menangis menjerit-jerit akan membuat hatinya lebih lega maka
itulah yang terjadi, begitu pula sebaliknya.
Ibarat
senyuman, air mata marupakan bahasa manusia yang abadi, meskipun bentuknya
hanya berupa lelehan bening dari sudut-sudut mata, namun ia mampu menyentuh
hati yang terdalam, membangunkan perasaan haru, dan mendorong emosi untuk
keluar. Inilah kondisi psikologi manusia pada umumnya, terutama manusia yang masih
dianugerahi kepekaan rasa dan kelembutan hati.
Bicara
tentang air mata juga erat kaitannya dengan keharuan karena keharuan merupakan
perasaan dasar manusia. Karena itu, kebagai manusia akan selalu terdorong untuk
menyukai tontonan atau karya seni yang menyentuh perasaan.
Ada
satu pertanyaan kecil yang mendesak di hati, apakah dengan murahnya air mata
dan mudahnya kita merasa terharu, itu menunjukkan bahwa kit aini cengeng dan
berhati lemah? Mungkin juga demikian, tapi yang jelas mengeluarkan air mata
menunjukkan bahwa kita ini adalah manusia yang berhati lembut. Dengan demikian
barang siapa yang dapat menangkap rahasia kelembutan hati, maka ia akan menuai
hikmahnya. Namun perlu diingat bahwa, sebuah kelembutan tidak ada hubungannya
dengan jenis kelamin.