Adakalanya
ketika melihat seseorang yang menitikkan air mata, kita bertanya “Apakah air
mata yang menetes itu pertanda berita baik atau buruk?”, pertanyaan semacam ini
tentunya akan kesulitan untuk mendapatkan jawaban, karena air mata memiliki
banyak tanda-tanda situasi emosi di dalamnya.
Ada
representasi rasa sedih yang amat dalam, namun ada pula mewakili wujud rasa
Syukur atas kehendak Tuhan yang ia terima. Namun ada pula yang mengklaim
sebagai terbelenggunya atau terbukanya pintu jiwa terhadap jiwa yang lebih
besar.
Semuanya
memiliki dasar yang kuat dan tentunya tidak ada yang melarang untuk
berargumentasi apa saja tentang air mata. Entah benar atau salah, sebagian ada
juga seseorang yang berani berargumentasi bahwa air mata adalah tanda dari
sebuah kedangkalan. Tapi bisa jadi itu kedangkalan yang dimaksud, kedangkalan
jiwa, kedangkalan pikiran dan juga kedangkalan kepribadian.
Bukankah
dengan keluarnya air mata berarti ada bagian tertentu dari dinding emosi sedikit
yang terlalu peka?. Ada pula bertutur kata air mata adalah sebuah cermin kedalaman,
kedalaman yang dimaksud di sini yaitu kedalaman jiwa, kedalaman pikiran dan
kedalaman pribadi. Bukankah hanya kedalaman yang bisa melampaui logika hingga
kemudian bisa berlinang air mata? Yang jelas manusia selalu bergerak dan selalu
mengemukakan argumentasinya.
Mereka
yang di sana bisa berbeda dengan mereka yang di sini. Teramat sukar untuk
menerangkan dengan menghilangkan tentang hal-hal yang selalu berbeda seolah
hanya dengan keterangan dan penjelasan saja perjalanan hidup bisa membahagiakan.
Di
luar keterangan dan penjelasan yang ada, bisa dipahami hanya nuansa gelap yang
mungkin terbilang membahayakan. Kalau logika manusia bisa menjelaskan semuanya
mungkin manusia tidak perlu lagi bertanya dan mencari. Kita semua cukup membuka
kembali album-album jawaban dalam sejaran manusia yang cukup panjang. Jikalau ruang-ruang
terang dalam kehidupan bisa secara pasti menjamin kepastian hidup bahagia, tentu
semua ilmuan akan menghakhiri hidupnya dengan bahagia.
Contoh
yang sangat sederhana. Belajar berenang bukan berarti hanya dengan melihat
gambar orang berenang, kemudian seseorang itu bisa berenang, dan pada kenyataannya
tidak ada satu pun perenang yang bisa berenang cukup dengan melihat gambar
saja. Berenang hanya bisa dialakukan dengan cara mempraktikkannya dengan latihan
yang cukup. Yang demikian ini serupa terjadi dengan air mata.
Air mata, airnya
bisa saja serupa dan keluarnya pun bisa sama dari mata manusia, tetapi kalau
diteliti dan diperhatikan lebih lanjut kandungannya pasti berbeda-beda. Bahkan bisa jadi terjadi di tubuh manusia
yang lain juga sama. Namun pengalaman batin tentu saja berbeda. Pada masa kanak
terkadang kita menangis meminta mainan,
tentunya sudah pasti keluar air mata begitu pula saat kehilangan orang tua tentunya
sudah jelas keluar air mata bahkan jika saat jiwa ini jauh dari jalan Tuhan,
seseorang pun mengeluarkan air mata.
Dari
berbagai sudut pandang tentang air mata tentunya tidak semua puas dengan
penjelasan-penjelasan yang disampaikan. Pada akhirnya selalu saja muncul
pertanyaan, “Apa itu air mata?”. Dalam hal ini, tentu tidak perlu diperdebatkan,
meskipun tidak ada larangan bagi siapa pun berargumentasi tentang air mata. Namun
yang pasti dan tidak bisa kita pungkiri lagi, bahwa yang berhak dan pasti tahu “Apa
itu air mata dan Mengapa air mata itu keluar” hanyalah orang yang mengeluarkan
air mata tersebut. Sekalipun ada penolakan namun pengalaman diri akan keluarnya
air mata menjadi dasar yang kuat dan sulit terbantahkan oleh
penjelasan-penjelasan yang hanya berdasarkan anggapan tanpa pengalaman diri
secara langsung.