Seorang lelaki
pernah berkata, “Barangkali memang benar, hanya seorang lelaki yang paling
miskin Khazanah nuansa emosionalnya.” Perlu diketahui bahwa hidup lelaki yang
berkata demikian sudah dipersepsikan bahwa air mata bagi lelaki adalah bentuk
kecengenan dan kelemahan. Apalagi, lelaki ini dibentuk sejak kecil oleh
bentakan bapaknya. “Diam!!! Kamu itu laki-laki, jangan menangis” atau “Dasar laki-laki
cengeng. Sana, menangis dibalik kebaya ibumu!”. Mungkin begitulah takdir yang
sering dialami oleh seorang lelaki, meskipun tidak semuanya. Tapi faktanya
memang demikian.
Ketika tiba-tiba
saja lelaki harus berumah tangga, ia pun harus dipaksa serumah dengan perempuan,
sosok yang paling sering memakai bahasa air mata. Pada banyak kondisi dan
situasi yang bisa tumpah ruah seolah tanpa batas, di sanalah bermula perjalanan
misterius yang penuh dengan berbagai kejutan bagi seorang lelaki.
Lelaki melihat
air mata pada perempuan pilihannya pertama kali saat upacara ijab Kabul yang
berlangsung sacral. Entah mengapa ada bitnik-bintik bening merebak, membasahi
bulu-bulu lentik di kelopak mata gadis pilihannya itu. Susah payah ia menepis
bayang-bayang hitam dengan penuh tanya, “Apakah perempuan itu menyesal menikah
denganku? Kalau tidak, lalu mengapa harus ada air mata.
Begitupula ketika
kali kedua ia melihat perempuan pilihannya meneteskan air mata saat dirinya berlumuran
darah karena jatuh dari sepeda motor buntutnya. Padahal ia sendiri merasa
biasa-biasa saja, namun bagi perempuannya seolah ada rasa khawatir yang mendalam.
Pada kali lainnya, mengapa mata perempuan itu berkaca-kaca saat melepas rindu
setelah lama berpisah? Sedangkan ia malah tertawa-tawa. Puncaknya adalah
perempuan pilihannya itu menangis setelah melahirkan bayi yang telah lama
dinanti. Susah payah lelaki itu membujuk, tapi perempuan itu keras kepala. Terus
menangis, hingga kemudian berhenti sendiri. Tak lama berselang, perempuan
pilihannya kembali menangis saat memeluk banyinya yang sedang demam panas. Padahal
obat Penawar baru saja usai diberikan. Pertanyaannya adalah “Apakah air mata
bisa mengurangi rasa sakit?”.
Tapi anehnya,
perempuan pilihannya itu tidak meneteskan air mata ketika dirinya di-PHK. Saat tergusur
dari pondok kontrakan, susu bayi tiada, atau dapur yang mulai jarang berasap,
perempuan pilihannya lebih memilih tidak menangis. Termasuk juga setelah tiga
tahun menikah, belum pernah ada selembar baju baru dihadiahkan lelaki itu
kepadanya. Atau ketika peringatan hari ulang tahun perkawinan yang dirayakan
cukup dengan makan nasi dingin dan rumah kontrakan yang menjadi saksi.
“Pada akhirnya,
lelaki makin tidak memahami dunia air mata dan perempuan. Yang demikian ini
justru membuatnya makin bertambah bingung dan heran bercampur takut. Ternyata sungguh
rumit menakar air mata perempuan berdasarkan timbangan akal semata. “Apa
sebenarnya rahasia air mata bagimu, wahai perempuan?” jeritan yang biasanya ada
di dalam hati seorang lelaki”
Sebagai muslim
sejati yang taat pada ajaran agama, lelaki tentu menyadari kewajibannya sebagai
suami untuk mendidik, membina, dan mencintai perempuan pilihannya. Untuk itu,
ia pun berusaha menyelami kehidupan emosional dan perasaan perempuan
pilihannya. Termasuk juga dimensi air mata, dengan segala kerumitan yang khas
dan membutuhkan kepekaan tertentu.
Semula
berasumsi, semua perempuan memang menangis tanpa ada alasan yang pasti, namun
teka-teki itu terjawab seiring dengan pengetahun ensiklopedi kehidupannya,
serta kekayaan pengalaman yang direguknya selama berumahtangga. Sedikit demi sedikit
lelaki mulai memahami bahwa sebenarnya air mata bagi perempuan adalah air mata
kehidupan. Air mata yang lebih dari sekedar rumit, tapi air mata yang membuktikan
kalau perempuan adalah makhluk terpenting di dunia ini.