Momen jatuh cinta merupakan momen terindah di antara yang terindah yang
ada di dalam hidup seseorang. Kalimat mesra kian bermunculan bagi seseorang
yang sedang jatuh cinta, salah satunya yang sering kita dengar; dunia serasa
milik berdua, tahi kucing terasa coklat, kau dan aku se-iya se-kata, kau dan
aku satu hati satu tujuan, cinta kita kan abadi selamanya. Apakah mungkin
memang seperti itu adanya, ataukah hanya dialami bagi yang pernah merasakan
jatuh cinta.
Namun putus cinta …. Aduh betapa sakitnya, nafas terasa sesak, dada
seakan meledak, seolah-olah dunia akan kiamat. Cinta menjadi menyakitkan, karena
cinta itu berakhir atau putus cinta. Semua orang yang mengalami putus cinta,
mengakui bahwa momen itu begitu menyakitkan. Mungkin Anda tahu, kapi pun tahu,
tapi entah mereka …..
Dunia cinta memang rumit bak dunia lain; ada yang baru kenal tiba-tiba
sudah di pelaminan, ada yang berpacaran baru tiga hari, memasuki hari ke empat
mereka sudah di pelaminan. Namun ada yang sudah tiga tahun tahun berpacaran bahkan
ada yang lebih dari itu, malah kandas. Inilah rahasia Ilahi, ada yang bahagia,
ada yang menderita. Yang bahagia, perjalanannya mungkin sudah sampai batas
namun yang menderita entah sampai mana perjalanannya.
Patah hati bukan hanya sebuah metafora umum yang sering digunakan
untuk menjelaskan sakit emosional atau penderitaan mendalam yang dirasakan
seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai, melalui kematian, perceraian,
putus hubungan, terpisah secara fisik atau penolakan cinta. Namun patah hati termasuk
kondisi yang membuat seseorang kehilangan arah dan tujuan bahkan tanpa berpikir
panjang seseorang bisa membunuh dirinya sendiri. Ada yang mengatakan ini adalah
hal yang bodoh bahkan edan, tapi itulah kenyataannya.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa seseorang itu bisa melakukan hal
se bodoh itu ketika mengalami patah hati atau putus cinta? Bukankah cinta itu
hanya satu dimensi fitrah dari kehidupan manusia. Dan apakah dengan berakhirnya
cinta, kehidupan juga selesai?, tentu saja tidak begitu.
Memang cinta hanya satu deminsi fitrah dalam kehidupan manusia,
karena itu gagal dalam cinta itu bagian dari sandiwara kehidupan dan bukan
berarti kegagalan yang mencakup semua bidang, buktinya ada beberapa orang yang
gagal dalam cinta kehidupannya pun tetap berjalan, walaupun memang tidak
semulus seperti sebelumnya, namun yang jelas kehidupannya tidak berakhir.
Berbicara cinta memang unik. Ada saatnya cinta membuat perasaan
begitu bahagia dan berbunga-bunga. Tapi tak jarang, cinta membuat perasaan
sangat sakit dan kecewa mendalam. Karena cinta seseorang bisa sangat ceria,
makin ramah dan baik hati. Dan karena cinta pula, seseorang rentan mengurung
diri bahkan depresi. Sebab itulah Rasulullah SAW bersabda:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا
سُوَيْدُ بْنُ عَمْرٍو الْكَلْبِيُّ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ أَيُّوبَ
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أُرَاهُ رَفَعَهُ قَالَ أَحْبِبْ
حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ
بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا قَالَ أَبُو
عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ إِلَّا مِنْ
هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيث عَنْ أَيُّوبَ بِإِسْنَادٍ غَيْرِ
هَذَا رَوَاهُ الْحَسَنُ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ وَهُوَ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ أَيْضًا
بِإِسْنَادٍ لَهُ عَنْ عَلِيٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَالصَّحِيحُ عَنْ عَلِيٍّ مَوْقُوفٌ قَوْلُهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami (Abu Kuraib), telah
menceritakan kepada kami (Suwaid bin Amru Al Kalbi) dari (Hammad bin Salamah)
dari (Ayyub) dari (Muhammad bin Sirrin) dari (Abu Hurairah) (aku menduga, bahwa
dia memarfu'kannya) berkata: "Cintailah orang yang engkau cintai
seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah
orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan
menjadi orang yang engkau cintai." Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits
gharib, yang tidak kami ketahui kecuali dengan sanad ini melalui jalur ini.
Hadits ini juga telah diriwayatkan dari (Ayyub) dengan selain sanad ini yang
diriwayatkan oleh (Hasan bin Abi Ja'far) dan dia merupakan hadits yang dha'if
dengan sanad dari (Ali) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun yang
benar hadits ini mauquf kepada Ali. (HR. Tirmidzi No. 1.920).
Melalui redaksi hadits di atas Rasulullah memberikan penjelasan
kepada kita semua agar dalam cinta mencintai, bahkan benci membeci terhadap sesama
makhluk Ilahi, maka cintailah dia, bencilah dia sewajarnya saja, tidak boleh
berlebihan.
”