Berdiskusi tentang cinta, tidak lepas dari unsur yang sering diungkapkan
oleh seseorang, walaupun demikian unsur yang sering diungkapkan dan bahkan
menjadi familiar itu sangat sukar untuk dijalankan, yaitu ketulusan cinta,
cinta tak bersyarat, cinta tanpa pamrih. Ketulusan dalam cinta berarti dalam
mencintai seseorang tanpa pamrih, tidak pernah mengharap balasan atau imbalan
atas semua yang telah dilakukan untuk mencintai. Karena ketulusan tersebut
muncul dari dalam lubuk hati yang paling dalam. Ketulusan cenderung menerima
segala sesuatu dengan apa adanya.
Mungkin ada sebagian orang menertawakan mereka yang menjalani
hidupnya dalam kenagan cinta dan menikmati rasa pedih patah-patahnya, ada pula
orang yang menertawakan cinta yang tulus dan tanpa pamrih. Memang tidak mudah
untuk menjelaskan ketulusan ini di mana kalkulasi rasional dan pola pikir serba
material mendominasi hampir seluruh bidang kehidupan manusia. Meskipun
demikian, hampir semua ahli, dari penyair sampai filsuf, tentang cinta
menyatakan bahwa cinta yang berunsur ketulusan inilah yang layak disebut
sebagai cinta sejati.
Ketulusan dan ketiadaan pamrih dalam cinta banyak dianggap orang
sebagai inti utama dalam cinta, di sisi yang lain sebagai sesuatu yang paling
sulit untuk diwujudkan. Sebagian besar cinta yang diberikan orang dilandaskan
kepada pamrih atau tendesni tertentu. Sederhananya orang yang memberikan cinta
biasanya mengharapkan balasan cinta yang serupa atau kesenangan yang serupa
sebagaimana yang diberikan kepada yang dicintainya.

Ketulusan dalam cinta lebih jauh bisa dibuktikan dari keteguhan
sikap untuk tidak mundur atau melarikan diri saat dalam cinta yang diterima
atau diberikannya ditemukan suatu kesulitan dan kepahitan. Mundur dan lari dari
cinta saat merasakan masa-masa susah dan kesulitan adalah sama halnya dengan dalam
mencinta dia hanya menginginkan kemananan dan kesenangan dirinya sendiri dan
bukti bahwa cinta yang diterima atau diberikannya bukanlah cinta yang tulus,
bukan cinta yang murni, bukan cinta yang sebenarnya, tetapi sebentuk cinta egoisme
hidonis yang berupaya untuk mencari kesenangan sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
الْمَرْءُ مَعَ
مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
Artinya: “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan
engkau akan bersama orang yang engkau cintai,” (HR. Tirmidzi).
Redaksi hadits di atas merupakan teladan dari Rasulullah Muhammad
SAW yang diberikan kepada umatnya untuk menebarkan cinta dan kasih sayang yang
didasarkan karena Allah SWT, dan di dalamnya terdapat ketakwaan serta ketaatan.
Menunjukkan bahwa ketulusan cinta dalam mencintai seseorang harus didasarkan
karena Allah SWT, sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya. Dengan demikian akan
muncul sebuah kekuatan untuk hidup bersama dengan orang yang dicintainya. Rasa kebersamaan
ini merupakan salah satu Rahmat yang diberikan oleh Allah SWT, kepada seseorang
yang saling cinta mencintai atas dasar lillahi ta’ala.
Tidak dapat dipungkiri bahwa bentuk cinta yang sempurna adalah cinta
yang memberikan tetapi tidak mengharapkan apapun. Tentu saja cinta bersedia dan
akan bersenang hati menerima apa saja yang ditawarkan. Tetapi cinta tidak
meminta apapun, sebab kalau seseorang tidak mengharap apapun, ia tidak meminta
apapun juga, dan ia tidak akan merasa tertipu.
Apakah dalam cinta yang sejati orang tidak akan meraskan patah
hati, karena ketulusan mengadaikan tanpa pamrih, sementara ketiadaaan pamrih
meniscayakan tiadanya tuntutan dan keinginan apapun, dan tentunya orang yang
tidak menuntut atau menginginkan apapun tidak akan menemui kecewa, tersakiti
dan yang lain sejenisnya yang kita sebut patah hati? Memang demikianlah
kiranya, dan tentunya cinta sejati yang tidak akan pernah membuat seserang itu kecewa,
tertipu, tersakiti, atau bahkan patah hati adalah cinta sejati seorang hamba
kepada Tuhannya.
Ingatlah, mungkin saat ini kita mengalami patah hati, terasa sakit,
pedih, kecewa. Dalam suasana hati yang demikian, maka tanykanlah diam-diam di
kedalaman hati, kenapa harus sakit?, kenapa harus sedih?, kenapa harus kecewa?.
Tentu jawaban kejujuran itu akan keluar dengan sendirinya, dan jawaban
kejujuran ini akan membuktikan, apakah selama cinta itu benar-benar cinta, atau
hanya sekedar kepemilikan, atau mungkin pelampiasan birahi.
Apakah dengan patahnya hati, kita tidak bisa lagi mencinta, tentu
saja tidak. Kita berhak kecewa, bersedih, sakit, namun sampai kapanpun kita tidak
akan pernah kehilangan cinta, karena cinta itu abadi. Cinta tidak pernah
mengenal ruang dan waktu, sebab cinta merupakan anugerah yang mulia yang diberikan
Tuhan kepada seluruh makhluk-Nya.
”